Senin, 05 Desember 2016

Cara mengatasi penyakit Vibrio sp


Penyakit bakterial penting pada ikan baronang, yaitu penyakit yang disebabkan bakteri Vibrio spp. dan Streptococcus sp. Gejala yang timbul, antara lain nafsu makan menurun, warna tubuh menjadi lebih gelap, perdarahan (hemoragi) multifokal pada sirip, dan mata buram/keruh serta sering kali menonjol. Infeksi kronis umumnya menyebabkan insang pucat.

Cara mengatasi penyakit Vibrio sp
  • Pencegahannya dengan mempertahankan kualitas perairan, melakukan penanganan sesuai prosedur, padat penebaran yang lebih rendah, dan vaksinasi. Pengobatannya dengan perendaman ikan sakit ke dalam larutan nitrafurazone 15 mg/l selama 2 jam atau Chloramphenicol 5o mg/l selama 4 jam. perendaman dapat juga dengan Supphonamide 5o mg/l selama 4 jam.
Menurut ( Alam Ikan 2 ) Bakteri Vibrio adalahmerupakan genus yang dominan pada lingkungan air payau dan estuaria. Bakteri Vibrio merupakan jenis bakteri yang bisa hidup di salinitas yang relatif tinggi, bakteri vibrio menyebabkan penyakit pada hewan perairan laut dan payau. 

Menurut (Alam Ikan 3) Vibrio sp. menyerang lebih dari 40 spesies ikan di 16 negara. Vibrio sp. mempunyai sifat gram negatif, sel tunggal berbentuk batang pendek yang bengkok (koma) atau lurus, berukuran panjang (1,4 – 5,0) µm dan lebar (0,3 – 1,3) µm, motil, dan mempunyai flagella polar 

 karakteristik spesies Vibrio berpendar (Tabel 1). Sifat biokimia Vibrio adalah oksidase positif, fermentatif terhadap glukosa dan sensisif terhadap uji O/129 .

 sebagian besar bakteri berpendar bersifat halofil yang tumbuh optimal pada air laut bersalinitas 20-40‰. Bakteri Vibrio berpendar termasuk bakteri anaerobic fakultatif, yaitu dapat hidup baik dengan atau tanpa oksigen. Bakteri Vibrio tumbuh pada pH 4 - 9 dan tumbuh optimal pada pH 6,5 - 8,5 atau kondisi alkali dengan pH 9,0 

Vibrio sp merupakan salah satu bakteri patogen yang tergolong dalam divisi bakteri, klas Schizomicetes, ordo Eubacteriales, Famili Vibrionaceae. Bakteir ini bersifat gram negatif, fakultatif anaerob, fermentatif, bentuk sel batang dengan ukuran panjang antara 2-3 µm, menghasilkan katalase dan oksidase dan bergerak dengan satu flagella pada ujung sel 

Klasifikasi Bakteri  Vibrio 
Kingdom : Eubacteria
Divisi : Bacteri
Class : Schizomycetes
Ordo : Eubacteriales
family : Vibrionaceae
Genus : Vibrio
Spesies : Vibro anguillarum Vibrio vulnificus
Vibrio salmonicida Vibrio hollisae
Vibrio alginolyticus Vibrio damsel
Vibrio cholera Vibrio fluvialis
V. parahaemolyticus Vibrio mimicus

Ciri khas organisme Vibrio
Secara umum, morfologi atau struktur tubuh dari bakteri Vibrio bila diisolir dari faeces penderita atau dari biakkan yang masih muda adalah batang bengkok seperti koma, tetapi akan berbentuk batang lurus bila diambil atau didapat dari biakan yang sudah tua.

Mempunyai sifat Gram negatif dengan ukuran 1 – 3 x 0,4 – 0,6 µm tetapi ada beberapa literatur yang mengatakan bahwa Vibrio berukuran panjang (1,4 – 5,0) µm dan lebar (0,3 – 1,3) µm.

Perkembangbiakan Vibrio
Berdasarkan pengamatan visual terhadap bakteri pathogen spesies Vibrio, maka bakteri ini dapat dibedakan berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran koloni yang tumbuh pada media TCBS agar setelah masa inkubasi 24 - 48 jam pada suhu kamar (30°C). TCBS adalah media yang lebih dianjurkan untuk kultur tinja, dimana sebagian besar galur menghasilkan koloni-koloni yang berwarna biru-hijau (sukrosa negatif). 

Dari hasil penelitian terhadap isolat bakteri Vibrio sp, ditemukan enam spesies bakteri patogen Vibrio sp, yaitu : 
a. Vibrio Anguillarum
  • Ciri-ciri warna putih kekuning-kuningan, bulat, menonjol dan berkilau. Karakteristik biokimia adalah mempunyai sifat fermentatif, katalase, oksidase, glukosa, laktosa, sellobiosa, galaktosa dan manitol positif. Sedangkan methyl red dan H2S negatif.
b. Vibrio alginolyticus.
  • Ciri-ciri berwarna kuning, diameter 3-5 mm. Karakteristik biokimia adalah mempunyai sifat fermentatif, katalase, oksidase, methyl red dan H2S, glukosa, laktosa, dan manitol positif. Sedangkan sellobiosa, fruktosa, galaktosa negatif.
c. Vibrio cholera
  • Ciri-ciri yaitu berwarna kuning, datar, diameter 2-3 mm, warna media berubah menjadi kuning. Karakteristik biokimia adalah mempunyai sifat fermentatif, katalase, oksidase, methyl red dan H2S, glukosa, laktosa, galaktosa dan manitol positif. Sedangkan sellobiosa, fruktosa, bersifat negatif.
d. Vibrio salmonicida
  • Ciri-ciri berwarna bening, diameter < 1 mm, bulat, menonjol dan utuh. Karakteristik biokimia adalah mempunyai sifat fermentatif, katalase, oksidase, glukosa positif. Sedangkan methyl red, H2S, laktosa, galaktosa, manitol, sellobiosa, fruktosa, bersifat negatif.
e. Vibrio vulnificus.
  • Ciri-ciri berwarna biru sampai hijau, diameter 2-3 mm. Karakteristik biokimia adalah mempunyai sifat fermentatif, katalase, oksidase, methyl red dan H2S glukosa, sellobiosa, fruktosa, galaktosa dan manitol positif. Sedangkan, laktosa bersifat negatif.
f. Vibrio parahaemolyticus.
  • Ciri-ciri berwarna biru sampai hijau, diameter 3- 5 mm, dipusat koloni berwarna hijau tua. Karak-teristik biokimia adalah mempunyai sifat fermentatif, katalase, oksidase, glukosa, laktosa, galaktosa dan manitol positif. Sedangkan sellobiosa, fruktosa, methyl red dan H2S bersifat negatif. 
  • Vibrio parahaemolyticus (Vp) merupakan bakteri halofilik Gram negatif.Bakteri ini tumbuh pada kadar NaCl optimum 3%, kisaran suhu 5 – 43°C,pH 4.8 – 11 dan aw 0.94 – 0.99.Pertumbuhan berlangsung cepat pada kondisi suhu optimum (37°C) dengan waktu generasi hanya 9–10 menit.Seafood yang merupakan produk hasil laut, memberikan semua kondisi yang dibutuhkan oleh Vp untuk tumbuh dan berkembang biak: keberadaan garam, nutrien yang baik serta pH dan aw yang cocok sehingga Vp sering terdapat sebagai flora normal di dalam seafood. 
  • Mereka terkonsentrasi dalam saluran pencernaan moluska, seperti kerang, tiram dan mussel yang mendapatkan makanannya dengan cara mengambil dan menyaring air laut .Strain Vp patogen merupakan penyebab penyakit gastroenteritis yang disebabkan oleh produk hasil laut ( seafood ), terutama yang dimakan mentah, dimasak tidak sempurna atau terkontaminasi dengan seafood mentah setelah pemasakan. Gastroenteritis berlangsung akut, diare tiba-tiba dan kejang perut yang berlangsung selama 48 – 72 jam dengan masa inkubasi 8 – 72 jam. 
  • Gejala lain adalah mual, muntah, sakit kepala, badan agak panas dan dingin. Pada sebagian kecil kasus, bakteri juga menyebabkan septisemia. 
  • Sejak tahun 1997, jumlah kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) yang disebabkan oleh Vp meningkat secara tajam di berbagai kawasan dunia.Terjadinya KLB ini telah teridentifikasi disebabkan oleh konsumsi seafood terutama tiram ( oyster ) mentah yang terkontaminasi oleh Vp.Sejak tahun 1997 tersebut, maka seafood terutama tiram dianggap sebagai jenis pangan yang penting diwaspadai dari aspek keamanan pangan.Strain Vp patogen penyebab gastroenteritis sangat beragam.Strain Vp patogen dengan serotype O3:K6 sejak tahun 1996 muncul menjadi sumber patogen baru penyebab keracunan pangan. 
  • Kasus keracunan karena Vp lebih banyak terjadi pada musim panas.Kondisi ini berkorelasi positif dengan prevalensi dan jumlah kontaminasi Vp pada sampel seafood lingkungan yang juga meningkat dengan meningkatnya suhu perairan.Tingkat salinitas air laut juga berpengaruh pada tingkat kontaminasi. 
  • Teknik analisis berpengaruh pada tingkat prevalensi dan tingkat isolasi Vp dari seafood. Untuk pengendalian tingkat kontaminasi didalam seafood, diperlukan pemilihan metode analisis yang lebih sensitifitas dengan waktu deteksi yang lebih cepat.Teknik analisis berdasarkan deteksi gen (tlh, tdh dan/atau trh) memberikan hasil yang lebih akurat untuk mendeteksi strain patogen dibandingkan dengan teknik MPN-konvensional yang berdasarkan pada reaksi biokimiawi. Pada sampel seafood dari lingkungan dan pasar ritel, Vp patogen hanya terdeteksi dalam jumlah rendah (<100 sel per-gram).Prevalensi dan tingkat kontaminasi Vp dalam sampel seafood lingkungan dan pasar ritel juga seringkali jauh lebih kecil dari batas maksimum Vp yang diijinkan FDA didalam seafood yang akan dijual (104 sel per-gram).Kondisi ini juga terjadi pada sampel yang diambil selama terjadinya

Atau dapat dilihat dari kolom dibawah ini :
NO MEDIA CHOLERA ELTOR PARAHAEM NAG
1 Simmon’s citrate Positif Positif Positif Positif
2 Urea agar Negatif Negatif Negatif Negatif 
3 Lysine iron agar Positif Positif Positif Positif 
4 TCBS Kuning Kuning Hjau Kuning 
5 Glucose Asam Asam Asam Asam
6 Lactose Alcalis Alcalis Alcalis Alcalis 
7 Manniet Asam Asam Asam Asam
8 Maltose Asam Asam Asam Asam
9 Sacharose Asam Asam Alcalis Asam 
10 Oxydatie test Positif Positif Positif Positif
11 Stiring test Positif Positif Positif Positif
12 Haemolysa test Negatif Positif Negatif ?
13 Haemagglutinasi Negatif Positif Negatif ?
14 Polymixin B test Sensitif Resistent Resistent ?
15 Phage test Sensitif Resistent Resistent Resistent 


Media Perbenihan Vibrio sp
  1. Bakteri Vibrio adalah jenis bakteri yang dapat hidup pada salinitas yang relatif tinggi.  sebagian besar bakteri berpendar bersifat halofil yang tumbuh optimal pada air laut bersalinitas 20-40‰. 
  2. Bakteri Vibrio berpendar termasuk bakteri anaerobic fakultatif, yaitu dapat hidup baik dengan atau tanpa oksigen. Bakteri Vibrio tumbuh pada pH 4 - 9 dan tumbuh optimal pada pH 6,5 - 8,5 atau kondisi alkali dengan pH 9,0 

 Media yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
1) T.C.B.S. Agar plate
  • Biasanya koloni Vibrio yang tumbuh pada media ini berwarna kuning, koloni sedang - besar, smooth, keping,jernih,tepinya tipis, dilingkari oleh zone berwarna kuning, ada yang koloninya berwarna hijau.
2) Mac Conkey agar
  • Koloni Vibrio yang tumbuh pada media Mac conkey berukuran kecil-kecil, tidak berwarna atau merah muda dan sedikit cembung.
Beberapa test yang biasa dilakukan yaitu sebagai berikut 
TSIA : Lereng : Alkali
: Dasar : kuning
: Gas : (+)positif
SIM : Sulfur : (-)negatif
: Indol : (+/-) positif/negatif
: motility : Aktif
SC : (+/-) positif/negatif
Oxidase test ; (+)
Glucose OF : Fermentative
String test : (+)
Catalase test : (-)negative

Sifat Patogenitas dan Gejala Klinis
Dalam keadaan alamiah, bakteri ini hanya patogen terhadap manusia, tetapi secara eksperimen dapat juga menginfeksi hewan. 

Hewan laut yang telah terinfeksi Vibrio khususnya Udang, akan mengalami kondisi tubuh lemah, berenang lambat, nafsu makan hilang, badan mempunyai bercak merah-merah (red discoloration) pada pleopod dan abdominal serta pada malam hari terlihat menyala. 

Udang yang terkena vibriosis akan menunjukkan gejala nekrosis. Serta bagian mulut yang kehitaman adalah kolonisasi bakteri pada esophagus dan mulut. Vibrio tidak bersifat invasif, yaitu tidak pernah masuk kedalam sirkulasi darah tetapi menetap di usus sehingga dapat menyebabkan gastritis pada manusia. 

Masa inkubasi bakteri ini antara 6 jam sampai 5 hari. Vibrio menghasilkan enterotoksin yang tidak tahan asam dan panas, musinase, dan eksotoksin. Toksin diserap dipermukaan gangliosida sel epitel dan merangsang hipersekresi air dan klorida sehingga menghambat absorpsi natrium. Akibat kehilangan banyak cairan dan elektrolit, terjadilah kram perut, mual, muntah, dehidrasi, dan shock (turunnya laju aliran darah secara tiba-tiba). 

Kematian dapat terjadi apabila korban kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar. Penyakit ini disebabkan karena korban mengkonsumsi bakteri hidup, yang kemudian melekat pada usus halus dan menghasilkan toksin. 

Produksi toksin oleh bakteri yang melekat ini menyebabkan diare berair yang merupakan gejala penyakit ini. Proses ini dapat dibuktikan dengan pemberian viseral antibodi. Bila terjadi dehidrasi, maka diberikanlah cairan elektrolit. 

Immunitas pasif dapat dilakukan dengan memberikan viseral antibodi dan viseral antitoksin yang dapat mengurangi cairan tanpa mematikan kuman. Vibrio jenis lain juga dapat menghasilkan soluble hemolysin yang dapat melisiskan sel darah merah. Struktur antigen Vibrio baik yang patogen maupun nonpatogen memiliki antigen-H tunggal yang sejenis dan tidak tahan panas. Antigen-H ini sangat heterogen dan juga banyak terjadi overlapping dengan bakteri lain. Gartnor dan Venkatraman membagi antigen-O Vibrio menjadi grup O1-O6. Yang patogen bagi manusia adalah grup O1 dari Vibrio coma. 

Antibodi terhadap antigen-O bersifat protektif sehingga Ogawa, Inaba, dan Hikojima membagi tiga serotip yang mewakili tiga faktor gen yaitu A, B, dan C. 

Masa inkubasi bakteri ini antara 6 jam sampai 5 hari. Pada Vibrio parahaemolyticus gejala berlangsung sampai 10 hari, rata-rata 72 jam. Sumber penularannya adalah melalui air, makanan, dan minuman yang terkontaminasi oleh lalat. Serta hubungan antar manusia, yaitu orang yang sedang sakit, orang yang telah sembuh dari penyakit, dan orang yang tidak pernah sakit tetapi membawa bibit penyakit atau healthy carrier. Penyebarannya juga bisa melalui air yang tercemar, 

Bakteri ini termasuk jenis opportunistic pathogen yang dalam keadaan normal ada dalam lingkungan pemeliharaan, kemudian berkembang dari sifat yang saprofitik menjadi patogenik jika kondisi lingkungannya memungkinkan. Bakteri Vibrio yang patogen dapat hidup di bagian tubuh organisme lain baik di luar tubuh dengan jalan menempel, maupun pada organ tubuh bagian dalam seperti hati, usus dan sebagainya. 

Menurut (Alam Ikan 11) dampak langsung bakteri patogen dapat menimbulkan penyakit, parasit, pembusukan DNA toksin yang dapat menyebabkan kematian biota yang menghuni perairan tersebut.Jika semua ikan dan hewan laut mati atau terkena vibriosis, maka akan menyebabkan penyakit bagi manusia yang memakannya dengan gejala awal seperti mual, muntah, diare, dan kejang perut sehingga bila terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektorlit secara berlebihan, dehidrasi, kolaps sirkulasi, dan anuri. 

Penyakit ini biasanya hanya dianggap sebagai diare biasa dan masyarakat hanya menganggap remeh serta tidak ditindaklanjuti atau tidak segera diobati sehingga dapat didapatkan angka kematian tanpa pengobatan sebanyak 25-50%. Di Jepang, 5% diare disebabkan oleh Vibrio parahaemolyticus.

Resistensi Terhadap Vibrio
Antibiotik merupakan suatu senyawa kimia yang sebagian besar dihasilkan oleh mikroorganisme, karakteristiknya tidak seperti enzim, dan merupakan hasil dari metabolisme sekunder. 

Penggunaan antibiotik yang berlebih pada tubuh manusia dapat menyebabkan resistensi sel mikroba terhadap antibiotik yang digunakan. 

Resistensi sel mikroba adalah suatu sifat tidak terganggunya sel mikroba oleh antibiotik. Sejumlah isolat Vibrio yang diisolasi dari udang ternyata resisten terhadap berbagai macam antibiotik seperti spektinomisin, amoksisilin, kloramfenikol, eritromisin, kanamisin, tetrasiklin, ampisilin, streptomisin, dan rifampisin


Pengobatan Terhadap Vibrio
Mengatasi terjadinya dehidrasi dengan pemberian pediatric cholera solution yang banyak mengandung K+ dan HCO3?. Pemberian antibiotic tetrasiklin yang dapat mempersingkat masa pemberian caira atau rehirdasi. Sedangkan pada Vibrio parahaemolyticus adalah dengan pemberian antibiotika kloramfenikol, kanamisin, tetrasiklin, dan sefaloti.

Pencegahan Tehadap Vibrio
  1. Pendidikan kesehatan (health education)
  2. Perbaikkan sanitasi khususnya control terhadap vector lalat
  3. Vaksinasi dapat melindungi orang-orang yang kontak langsung dengan penderita. Berapa lama efek proteksinya belum diketahui. Untuk mengatasi epidemic, efeknya belum jelas. Yang penting adalah efek psikologisnya.
  4. Diadakan perhatian khusus kepada pekerja-pekerja kapal, perenang, dan juru masak seafood karena habitat dari bakteri ii adalah di laut.
  5. Pengolahan dan penyimpanan makanan laut harus cermat.

Rabu, 23 November 2016

Mengenal Ikan Alligator


Mengenal Ikan Alligator

The Alligator Gar (“Gator Gar”), Atractosteus spatula, adalah primitif ikan pari. Gar Alligator dewasa memiliki deretan gigi ganda besar di rahang atas. Namanya berasal dari buaya penampilan seperti ini gigi bersama dengan moncong memanjang ikan. Permukaan dorsal dari Alligator Gar adalah coklat atau warna zaitun, sedangkan permukaan ventral cenderung lebih ringan. Skala mereka berbentuk berlian dan saling ( ganoid ) dan kadang-kadang digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk kepala perhiasan dan panah.
Seiring dengan status sebagai spesies terbesar dari Gar, yang Gar Alligator adalah ikan air tawar terbesar hanya ditemukan di Amerika Utara, berukuran 8 sampai 10 kaki (2,4-3,0 m) dan berat sedikitnya 200 lb (91 kg) pada saat jatuh tempo. Kenny Williams, dari Vicksburg, Mississippi , telah memecahkan rekor untuk Alligator Gar terbesar yang pernah tertangkap menggunakan jaring. Dia menangkap ikan pada tanggal 14 Februari 2011; itu diukur 8 kaki 5 di (2.57 m), £ 327 ( 148 kg) berat, dan hampir 48 di (120 cm) sekitar. Ikan diyakini telah antara 50 dan 70 tahun, pejabat satwa liar kata. Williams telah menyumbangkan ikan ke Mississippi Museum Ilmu Pengetahuan Alam di Jackson mana ia akan dipamerkan permanen di masa depan.
Rekor dunia saat ini untuk Alligator Gar terbesar tertangkap pada batang dan reel adalah £ 279 (127 kg). Yang terbesar diambil oleh bowfishing adalah 365 lb (166 kg). [3] ikan ini juga dikenal karena kemampuannya untuk bertahan hidup di luar air, yang mampu bertahan sampai dua jam di atas permukaan.

Alam
Gar buaya ditemukan di Bawah Sungai Mississippi Valley dan Gulf Coast negara bagian Amerika Serikat dan Meksiko Southeastern sejauh selatan sebagai Veracruz, meliputi negara bagian AS sebagai berikut: Texas , Oklahoma , South Carolina , Louisiana , Mississippi , Alabama , Tennessee , Arkansas , Missouri , Florida , dan Georgia . Mereka juga telah dikenal historis untuk datang sejauh utara sebagai pusat Kansas, Nebraska, Kentucky, Ohio, Iowa, dan barat-tengah Illinois , di mana hasil tangkapan paling utara diverifikasi berada di Meredosia, Illinois pada tahun 1922 dan 8,5 kaki (2,6 m) spesimen, sekarang diawetkan, tertangkap di dekat Beardstown . spesimen di lokasi lebih jauh ke selatan di Illinois telah diverifikasi baru-baru ini 1976, dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Illinois verifiying total 122 menangkap tanggal tersebut.  Mereka mendiami lamban dan backwaters kolam atau sungai besar, bayous, dan danau. Mereka ditemukan di payau atau air asin , dan lebih mudah beradaptasi dengan kedua daripada gars lainnya. Di Louisiana itu adalah umum untuk melihat gar besar mencolok permukaan di rawa-rawa payau.
 
Ciri Fisik



 
Telah ada beberapa penampakan menonjol Alligator Gar luar Amerika Utara. Pada bulan Februari 2007, 1,5 m (4,9 kaki) Alligator Gar ditemukan berenang di Jakarta , Indonesia , ketika kota itu dilanda banjir besar (lihat Eksternal Link di bawah). Pada Januari 2008, 3 kg (6,6 lb) gar buaya ditemukan oleh nelayan di Bera, Pahang , Malaysia , saat itu terjerat dalam jaring ikan. Pada November 2008, sebuah 0,5-0,6 m (1,6 hingga 2,0 kaki) Alligator gar panjang tertangkap di utara Esenguly , Turkmenistan oleh dua pejabat Perlindungan Perikanan Turkmenistan. Dr R. Mayden, Saint Louis University dan Dr Eric Hilton, Virginia Institut Ilmu Kelautan menegaskan bahwa itu mungkin Atractosteus spatula.
Pada tanggal 4 September 2009, 1 m (3,3 kaki) Alligator Gar itu ditemukan dalam Tak Wah Park di Tsuen Wan , Hong Kong . Dalam dua hari ke depan, setidaknya 16 Gars Alligator lainnya, dengan yang terbesar berukuran 1,5 m (4,9 kaki) panjang, ditemukan di kolam di taman umum di Hong Kong.Seperti yang dilaporkan oleh penduduk di dekatnya, ikan dibebaskan dalam kolam dengan akuarium penggemar dan pernah tinggal di sana selama beberapa tahun. Namun, setelah pengaduan yang dibuat oleh warga negara yang secara salah diidentifikasi sebagai ikan buaya , istilah seperti “Ikan Mengerikan Man-makan” ditemukan dalam berita utama surat kabar beberapa lokal besar, pejabat Pemerintah memutuskan untuk menghapus semua ikan dari kolam karena mereka mengklaim spesies tidak memiliki nilai konservasi dan akan mempengaruhi ekologi lokal jika dibiarkan dalam tambak. Layanan Kenyamanan dan Kebudayaan Departemen mengatakan akan menawarkan non-berbahaya ikan kepada kelompok-kelompok kesejahteraan hewan dan amal .
Ikan yang tertangkap pertama meninggal hari itu, dan klaim telah dibuat bahwa pemerintah lokal tidak memperlakukan gars dalam cara hewan-ramah – mereka terlihat menangkap ikan dengan jala improvisasi dan kaleng sampah. Pada tanggal 6 pemerintah eutanasia semua ikan seperti mengatakan bahwa tidak ada organisasi bersedia untuk membawa mereka. Pada tanggal 8 September namun, Hong Kong Ocean Park mengumumkan bahwa ia bersedia untuk mengambil ikan untuk pameran dan pendidikan kepada masyarakat . Lima garis bertahan hidup, tertangkap pada tanggal 7 September, dikirim ke Ocean Park.
Pada tanggal 21 Januari 2011, 1,5 m (4,9 kaki) Alligator Gar tertangkap di sebuah kanal di Pasir Ris , Singapura oleh dua nelayan rekreasi. Ikan itu dibawa ke kolam terdekat di mana pemilik dikonfirmasi sebagai sebuah Alligator Gar, bukan Arapaima sebagai pria inititally berpikir.
Gars buaya juga baru-baru menjadi “piala” ikan untuk akuarium swasta, terutama di Jepang . Pada Juni 2011, sekelompok pria dari Florida dan Louisiana telah didakwa atas tuduhan ilegal menghapus gar liar dari Sungai Trinity di Texas dan mencoba untuk kapal ikan ke Jepang atas perintah dari kolektor pribadi. Dikatakan bahwa ikan terbesar bisa mengambil $ 40.000 di pasar gelap Jepang.

Pakan
The Alligator Gar merupakan ikan, relatif pasif soliter yang hidup di badan air segar dan payau di Amerika Serikat bagian tenggara Ini adalah karnivora dan makan dengan mengintai di antara alang-alang dan vegetasi, menyergap mangsa lainnya. Alligator gar sering dicurigai dalam serangan terhadap manusia tetapi tidak ada serangan-serangan ini telah resmi dikonfirmasi sebagai karya spesies ini.
Suhu yang di kehendaki oleh ikan ini berkisa 20-250 derajat cecius,untuk memeliharanya di aquarium dibutuhkan berbagai jenis tanaman-tanaman air ( Imitasi atau Buatan ),pasir dan bebatuan karena itu adalah habitat alaminya dan membuat ikan ini tidak gampang stres.Dan jika ingin di satukan dengan ikan lainnya sebaiknya ukurannya seimbang karena ikan ini tidak akan segan-segan untuk menyerang ikan lainnya.Ikan ini berasal dari Amerika Tengah dan Selatan.

Karena ikan ini adalah ikan karnivora jadi ikan ini dapat di beri pakan berupa pakan-pakan hidup seperti ikan2 kecil,udang,dan beberapa serangga.Yang sangat di rekomondasikan adalah anakan ikan lele daripada pakan dan ikan kecil laiinya.Tapi,tetaplah memberikan pakan yang bervariasi agar ikan kamu tidak bosan dengan makanan yang kamu berikan.

Perkembangbiakan
Perkembangbiakan ikan ini dapat di lakukan di aquarium dan kolam dengan suhu berkisar 25 derajat celius hingga 28 derajat celcius,dengan menggabungkan 2 jantan dan 1 betina.Setelah terjadi pembuahan maka telur akan bersebaran di permukaan air dan akan tenggelam ke dasar air.Ikan ini dapat bertelur hingga 1100 butir.Jika kamu binggung cara membedakan jantan dan betina beginilah caranya:
Betina : Ukuran tubuh lebih besar,sirip anal rata
Jantan: Ukuran tubuh lebih kecil,sirip anal tampak berjumbai
Jika Burayak sudah mulai bermunculan beri makan mereka dengan kutu air dan artemia dan sampai ikan-ikan kecil sesuai dengan besarnya mulut burayak kamu.
Alligator Gar Meskipun lebih suka bergerak lambat perairan sungai, bayous, dan oxbows sepanjang tahun ini, tampaknya perlu waktu musim semi bidang banjir tergenang atau vegetasi lahan basah dalam rangka untuk bertelur.

Selasa, 15 November 2016

FORMALIN DALAM PRODUK PERIKANAN



FORMALIN DALAM PRODUK PERIKANAN
Pendahuluan
            Merebaknya isu penggunaan bahan kimia berbahaya dalam penanganan dan pengolahan hasil perikanan akhir-akhir ini akan berdampak negatif terhadap upaya pemerintah untuk melaksanakan program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan. Pasalnya, masyarakat yang sudah mempunyai minat akan makan ikan akan surut begitu mendengar sebagian ikan yang tersedia di pasar mengandung bahan berbahaya, apalagi bagi masyarakat yang belum memahami pentingnya makan ikan. Di samping itu, kandungan formalin pada produk-produk perikanan indonesia dapat menjadi alat bagi negara-negara importir untuk menolak produk-produk perikanan asal indonesia. Lalu, apa sebenarnya formalin, fungsinya dan efeknya terhadap kesehatan?
Cara Mengenali Formalin
Formalin merupakan gas formaldehid yang tersedia dalam bentuk larutan 40 %, berupa cairan jernih, tidak berwarna dengan bau menusuk. Berbagai macam fungsi formalin diantaranya adalah :
1. Sebagai antiseptik untuk membunuh  mikroorganisme
2. Bahan pengawet hewan kecil, serangga hingga mayat manusia
3. Desinfektan misal untuk mensterilkan kandang
4. Dalam kosmetika digunakan sebagai deodorant dan antihidrolitik (menghambat keringat )
5. Bahan tambahan dalam pembuatan kertas tissue untuk toilet
6. Bahan baku dalam industri lem playwood, resin maupun tekstil
Berdasarkan penelitian, formalin bersifat karsinogen yaitu senyawa yang dapat menyebabkan kanker pada manusia.
Konsumsi formalin dalam dosis rendah, dapat menyebabkan mual, muntah, rasa terbakar pada tenggorakan, sakit perut akut, mencret darah, depresi syaraf dan gangguan peredaran darah. Pada dosis tinggi berakibat konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), muntah darah dan bahkan bisa menyebabkan kematian.
Jika formalin dikonsumsi secara terus menerus dan dalam jangkla waktu yang panjang dapat mengakibatkan kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal. Mengingat besarnya bahaya yang ditombulkan, formalin dilarang digunakan sebagai bahan tambahan makanan.
Alasan Penggunaan Formalin
Bagi sebagian nelayan adalah lebih ekonomis karena 1 kg formalin dapat dibeli dengan harga lebih murah dibandingkan harga es batu, daya awetnya lebih lama, resiko kerusakan lebih rendah, penampakan lebih baik, formalin lebih mudah diperoleh serta lebih praktis dan tidak makan tempat yang luas dibandingkan dengan es batu.
Sedangkan alasan bagi pengolah ikan adalah biaya produksi lebih rendah, rendemen hasil lebih tinggi karena selama pengeringan ikan, formalin dapat mencegah turunnya bobot dari sekitar 60 % hanya menjadi 30 %, proses pengeringan lebih cepat dan penampakan lebih baik.
Ciri-ciri ikan yang Mengandung Formalin
Ikan Basah :
-      Penampakan luar bersih dan cemerlang
-      Tekstur daging kaku/kenyal
-      Mata ikan merah tetapi insang pucat
-      Sedikit lendir, bau amis (spesifik ikan) berkurang
-      Ada bau seperti kaporit, lalat kurang / tidak mau hinggap
Ikan Kering :
-      Penampakan luar bersih, cerah
-      Tekstur keras, kenyal
-      Bau hampir netral (bau amis berkurang)
ALTERNATIF PENGGANTI FORMALIN
Setelah kita mengetahui bahwa formalin sangat berbahaya bagi manusia apabila digunakan sebagai bahan pengawet makanan, maka kita perlu mengetahui alternatif pengganti dari formalin. Beberapa bahan yang aman digunakan sebagai bahan pengawet makanan (ikan)  sebagai pengganti formalin adalah :
1. Chitosan
            Bahan alami pengawet bahan makanan alternatif yang dibuat dari limbah udang dan rajungan yang telah ditemukan oleh Tim Riset Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Chitosan adalah produk turunan dari polimer chitin yakni produk samping (limbah) dari pengolahan industri perikanan khususnya udang dan rajungan. Uji aplikasi chitosan telah dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor terhadap beberapa produk ikan asin, seperti teri dan cumi. Pengawetan dilakukan dengan cara mencelupkan produk beberapa saat pada chitosan yang dilarutkan dalam asam asetat.
Berdasarkan penelitian, chitosan lebih unggul daripada formalin dalam hal :
-  Lebih aman
- Pada konsentrasi 1,5 % chitosan dapat menyamai formalin dengan indikasi lalat yang hinggap lebih sedikit, penampakan lebih baik dibandingkan dengan ikan asin dengan formalin maupun tanpa formalin
-  Pada minggu ke-delapan setelah diawetkan, ikan asin cucut yang diolesi chitosan lebih
   enak
-  Lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri
- Lebih ekonomis, (100 kg ikan asin hanya memerlukan satu liter chitosan dengan harga    Rp. 12.000,- sedangkan untuk efek yang sama diperlukan formalin senilai Rp. 16.000,-)
2. Biji Picung/Kluwek/Kapayang
Alternatif kedua ini merupakan bumbu populer di dapur keluarga Indonesia. Biji picung merupakan tanaman dengan nama spesies Pangium edule REINW yang termasuk dalam Divisio : Spermatophyta dan Sub Divisio : Angiospermae.
Nama-nama lain dari biji picung (Sunda), Kluwek (Jawa), Hapesong (Batak), Kepayang (Bahasa Indonesia), Pangi (Bahasa Melayu, Bali, Bugis), Pucung (Jakarta), Kalowa (Sumbawa). Biji picung sudah digunakan untuk mengawetkan ikan di daerah Banten dan Pariaman. Umumnya ikan yang diawetkan dengan biji picung dapat bertahan sampai       6 hari.
Cara-cara mengawetkan dengan biji picung :
-  Biji dicincang dan dijemur selama 2-3 hari
-  Ikan laut yang baru ditangkap dibersihkan   isi perutnya
-  Setelah itu rongga perut ikan diisi dengan cincangan biji picung
 
  Untuk pengangkutan jarak jauh, maka wadah/keranjang ikan dapat ditaburi dengan campuran cincangan biji picung dengan garam perbandingan 1 : 3 atau bisa juga dengan biji picung saja.
3. Asam Laktat yang Berasal dari Sayuran Kubis
Sayuran kubis ini dikenalkan oleh Dr. NL. Ida Sopied, MS, dari Jurusan Kimia FMIPA Institut 10 November (ITS) Surabaya. Pengawetan terhadap ikan segar dilakukan dengan cara merendam ikan dengan air yang dicampur dengan asam laktat.
 Asam laktat dapat dibuat di rumah dari sayuran kubis yang dirajang halus dan ditempatkan dalam wadah kemudian didiamkan selama 2 hari. setelah 2 hari akan terdapat cairan dari proses pembusukan kubis. Cairan tersebut yang akan digunakan sebagai asam laktat. Dengan merendam ikan dalam cairan tersebut maka ikan akan tahan selama 12 jam. Hasilnya akan lebih baik lagi, bila dipinggiran wadahnya diberi sedikit es batu.
4. Asap Cair dari Tempurung Kelapa
Pengawetan ikan dengan tempurung kelapa ini ditemukan oleh Dr. AH. Bambang Setiadji, MSc, PHd, Dosen Fakultas Kimia MIPA Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Asam cair yang dihasilkan dari tempurung kelapa yang digunakan untuk mengawetkan ikan berbentuk cairan yang berwarna bening, tidak keruh dan berwarna coklat. Meskipun masih mempunyai kendala dalam produksi antara lain mahalnya peralatan yang digunakan untuk memproduksi asap cair, namun asap cair mempunyai potensi sebagai pengganti formalin karena :
-    Ekonomis (pengawetan 1000 ekor ikan bandeng memerlukan 1 liter asap cair seharga       Rp. 6.000,- yang dicampur dengan 3 liter air)
-    Aman
-    Daya simpan ikan hingga 25 hari
-    Telah diproduksi secara masal
Beberapa bahan pengganti formalin sudah ditemukan oleh beberapa ahli di Indonesia. Namun demikian, masih perlu mendapat perhatian karena bahan pengawet alternatif fornalin tersebut belum tersedia secara luas di pasaran. Kepraktisan penggunaan serta nilai ekonomis dari bahan alternatif formalin tersebut juga perlu disosialisasikan secara luas ke masyarakat.

Jumat, 04 November 2016

PROSES PEMBUATAN MUTIARA


PROSES PEMBUATAN MUTIARA
Mutiara telah dikenal di seluruh dunia bahkan semua orang menyukainya, namun sedikit sekali yang memilikinya, hal ini disebabkan karena mutiara ini lumayan mahal. Mutiara termasuk salah satu kekayaan laut kita. Mutiara ini banyak digunakan sebagai perhiasan karena keindahannya dan daya tahannya yang kuat. Tapi, siapa yang tahu tentang proses pembuatan mutiara ?
Proses pembuatan mutiara ada beberapa macam. Mari kita simak penjelasan berikut ini.
Secara alami
Di alam, mutiara terbentuk akibat adanya irritant yang masuk ke dalam mantel kerang mutiara. Fenomena adanya irritant ini sering juga ditafsirkan dengan masuknya pasir atau benda padat ke dalam mantel kemudian benda ini pada akan terbungkus nacre sehingga jadilah mutiara. Secara teoritis, Elisabeth Strack (secara mendalam terdapat dalam buku Pearls tahun 2006) mendeskripsikan terbentuknya mutiara alami terbagi atas dua bagian besar, terbentuk akibat irritant dan masuknya partikel padat dalam mantel moluska. Pada prinsipnya, mutiara terbentuk karena adanya bagian epithelium mantel yang masuk ke dalam rongga mantel tersebut. Bagian epithelium mantel ini bertugas mengeluarkan/mendeposisikan nacre pada bagian dalam cangkang kerang disamping membentuk keseluruhan cangkang.
Teory irritant mengungkapkan bahwa pada suatu saat bagian ujung mantel sang kerang dimakan oleh ikan, hal ini dimungkinkan karena kerang akan membuka cangkang dan menjulurkan bagian mantelnya untuk menyerap makanan. Saat mantelnya putus, bagian remah eptiheliumpun masuk ke dalam rongga mantel. Teory irritant juga mengungkapkan bahwa bisa saja mutiara terbentuk akibat masuknya cacing yang biasanya menempati moluska pada masa perkembangannya kemudian berpindah ke organisme lain. Cacing ini merusak dan memasuki rongga mantel. Cacing ini tanpa sengaja membawa bagian epithelium yang ada di permukaan mantel bersamanya. Bila cacing mati dalam rongga mantel, maka cacing ini akan dibungkus oleh epithelium, membentuk kantung mutiara dan akhirnya terbentuklah mutiara.
Kalaupun cacing itu bisa melepaskan diri, maka epithelium yang tinggal dalam rongga mantellah yang akan membentuk mutiara setelah sebelumnya membentuk kantung mutiara. Sementara teori yang kedua adalah masuknya partikel padat ke dalam rongga mantel. Partikel padat bisa saja terperangkap di dalam tubuh kerang akibat dorongan air. Saat kerang ini tak bisa mengeluarkannya, partikel inipun bisa saja masuk ke rongga mantel. Saat dia masuk, epithelium juga ikut bersamanya.
Epithelium ini akhirnya membungkus partikel padat sehingga terbentuklah kantung mutiara. Kantung mutiara ini akhirnya akan mendeposisikan nacre ke partikel padat tersebut. Namun demikian sejauh ini belum ada bukti ilmiah yang mendukung teori masuknya pasir ke dalam mantel kerang mutiara walaupun teori ini dipahami sejak lama. Dari beberapa mutiara alami yang dibedah, menunjukkan bahwa bagian inti mutiaranya bukanlah partikel padat.
Mutiara hasil budidaya
Sebelum kegiatan operasi, kerang mutiara jauh hari sebelumnya sudah mengalami proses yang disebut weakening (membuat kerang mutiara menjadi lemah). Proses ini biasanya dari 2 minggu sampai sebulan tergantung jenis dari kerang mutiara. Proses ini dimaksudkan supaya kerang mutiara akan akan mengalami stress dan memasuki fase reproduksi dengan cepat sehingga apabila operasi dilaksanakan gonadnya sudah kosong. Bila gonad dalam keadaan penuh maka kegiatan operasi akan menyulitkan dan bahkan banyak mengalami kegagalan.
Proses weakening ini bisa dengan menutup kerang mutiara dengan sarung yang berpori sangat kecil sehingga partikel makanan tersaring atau bahkan kerang mutiaranya ditumpuk bersama kemudian dibungkus dengan sarung berpori kecil. Dalam kondisi ini, kerang mutiara masih bisa bertahan hidup walau makanan dalam partikel yang lebih besar sudah tak ada lagi. Setelah proses ini, kerang mutiara diangkat ke darat (bila operasi dilaksanakan di darat) dan mengalami proses weakening lanjutan di dalam tanki. Mereka ditumpuk bersama sehingga mereka makin lemah akibat konsumsi makanan dan oksigen yang rendah.
Bila operasi dilakukan tanpa proses ini, kerang mutiara masih sangat kuat untuk menendang keluar nucleus yang dimasukkan ke dalam gonadnya. Bahkan untuk jenis kerang terbesar     P. Maxima, otot mereka sangat kuat bila tak melewati proses weakening sehingga cangkangnya sangat susah dibuka. Pada saat-saat tertentu air dikeluarkan dari tanki sehingga memaksa kerang untuk membuka cangkangnya. Saat kerang membuka cangkang peg (pengganjal) disisipkan diantara kedua cangkang kemudian kerang siap dioperasi. Pada saat tanpa air, kerang akan membuka cangkang sementara mantelnya akan tertarik ke dalam. Hal ini memudahkan kegiatan pegging karena saat ditutupi air kerang akan membuka cangkang namun bagian tepinya akan tertutup mantel, akibatnya apabila dilakukan pengganjalan maka peg akan melukai mantel kerang.
Mutiara hasil budidaya menggunakan prinsip terbentuknya mutiara alami dengan sebuah nucleus sebagai dasar terbentuknya mutiara. Seorang teknisi terlatih akan menyiapkan inti mutiara yang biasanya bulat dan berasal dari cangkang kerang lain dan potongan mantel atau disebut juga saibo yang diambil dari kerang mutiara lain. Pemilihan donor ini mempertimbangkan warna dan kualitas nacre Mother of Pearl-nya (yang terdapat pada bagian sisi dalam cangkang kerang).
Awalnya sang teknisi akan membunuh kerang donor dengan hati-hati agar supaya tak menyentuh mantelnya. Bila mantelnya tersentuh, maka mantel akan berkeriput akibat reaksi dari si kerang. Membunuh kerang donor dilakukan dengan menyisipkan pisau di antara dua cangkang dan memotong otot aduktor dari kerang donor. Saat terbelah, kerang didiamkan sampai benar-benar mati sehingga saat bagian mantelnya disentuh dia tak bereaksi lagi. Selanjutnya dipotonglah bagian mantel yang menempel pada kedua cangkang dan mantel tersebutpun dipotong lagi kecil-kecil (kira-kira 3 x 3 mm). Bagian mantel yang dipersiapkan untuk penyisipan disebut saibo, sehingga kerang donor disebut juga kerang saibo. Saat operasi penyisipan, kerang penerima sudah dipegging (ditempatkan pasak antara kedua cangkang).
Kerang penerima ini ditempatkan sedemikian rupa agar mudah dioperasi. Shell opener bertugas untuk membuka cangkang lebar-lebar, kemudian teknisi akan mengiris tipis bagian antara gonad dan kaki dari kerang sebagai tempat masuknya inti dan saibo. Ukuran Intipun dipilih sesuai dengan ukuran gonad. Setelah itu intipun dimasukkan se dalam-dalamnya ke dalam gonad kemudian disusul dengan satu lembar saibo. Lembar saibo ini ditempatkan sedemikian rupa agar melekat di inti dengan bagian ectoderm (yang berisi epithelium penghasil nacre) menghadap inti. Karena bila terbalik maka kemungkinan terbentuk mutiara bulat sangat kecil. Setelah itu kerangpun ditempatkan ke keranjang atau panel dan akhirnya dikembalikan ke laut. Teknik operasi dan pasca operasi bervariasi setiap perusahaan mutiara.
Pada prinsipnya, dengan menerapkan teknik-teknik tertentu, kerang mutiara tak akan ”menendang” keluar inti yang disisip dan akhirnya bisa menghasilkan mutiara bulat yang berkualitas baik. Proses pemilihan kerang untuk penerima/penghasil mutiara juga mempertimbangkan umur kerang dan masa reproduksinya. Bila kerang dalam masa reproduksi maka gonadnya akan penuh, sehingga dianggap tak cocok untuk disisipkan inti. Kemampuan teknisi akan menentukan kualitas mutiara yang dihasilkan nanti.
Nah,  itulah proses pembuatan mutiara. Mutiara-mutiara dari indonesia sangat terkenal di luar negeri, memang kekayaan laut indonesia sangat luar biasa.

Bersumber dari Ruci dilaut Kita jaya
http://rucitoys.com/blog/proses-terjadinya-mutiara.html

DEMONSTRASI CARA BUDIDAYA CACING SUTERA DESA WUWUR KECAMATAN GABUS Oleh : Riyanto, SP

DEMONSTRASI   CARA BUDIDAYA CACING SUTERA DESA WUWUR KECAMATAN GABUS Oleh : Riyanto, SP BUDIDAYA CACING SUTERA Pendahu...